Epistemologi dan Perjalanan Manusia Menjinakkan Kebenaran
Oleh: Muhammad Arif Maulana
(Alumni Ma'had Aly Babussalam Al Hanafiyyah/Mahasiswa Pasca Sarjana HKI UIN Sultanah Nahrasyiah Lhokseumawe)
Epistemologi adalah refleksi terdalam manusia tentang pengetahuan. Ia
muncul dari kegelisahan sederhana tetapi sangat fundamental: “Bagaimana
aku tahu bahwa aku mengetahui?” Pertanyaan ini terdengar abstrak,
namun sesungguhnya menjadi fondasi bagi segala ilmu, keyakinan, bahkan cara
kita menjalani hidup. Epistemologi pada dasarnya adalah usaha besar manusia
untuk menjinakkan kebenaran. Sejak manusia pertama kali bertanya “apa yang
sedang aku lihat?”, “apakah ini nyata?”, hingga perdebatan gigih para filsuf
modern, persoalan pengetahuan tidak pernah hilang dari panggung sejarah.
Pertanyaan pokok epistemology apa itu pengetahuan, bagaimana kita
mengetahuinya, dan seberapa jauh kita dapat mengetahui adalah pertanyaan yang
membentuk cara kita memandang dunia.
pengetahuan bukan hanya
tumpukan informasi, melainkan buah dari perjalanan panjang yang melibatkan
kesadaran, argumentasi, dan pembuktian. Kita mengenal dan memahami sesuatu
lewat berbagai jalur: lewat indera yang menangkap dunia fisik, lewat akal yang
merumuskan makna, lewat intuisi yang tiba-tiba memberi kita pemahaman, dan
lewat wahyu yang menghubungkan manusia dengan kebenaran transendental. Keempat
jalur ini menunjukkan betapa rumitnya diri manusia bukan sekadar makhluk rasional, tetapi juga spiritual dan intuitif.
Dari titik inilah
perjalanan epistemologi terbentuk dalam sejarah. Di Yunani kuno, Plato dan
Aristoteles berdebat soal mana yang lebih unggul: dunia ide atau pengalaman
empiris. Masuk ke era Renaisans, sains bangkit lewat observasi dan eksperimen.
Sementara zaman modern menekankan objektivitas dan metode ilmiah. Pada
akhirnya, lahirlah tiga wilayah pengetahuan yang saling berkaitan dan tak bisa
dipisahkan.
1.
Epistemologi Sains: Di ranah ini, klaim
kebenaran harus lolos uji observasi dan verifikasi. Sains tidak tunduk pada
keyakinan maupun dogma—yang dihormatinya hanyalah bukti. Bahkan kebenaran
ilmiah bersifat sementara: hari ini dianggap valid, esok bisa tumbang jika
muncul data yang lebih kuat.
2.
Epistemologi Filsafat: Filsafat tidak merasa
cukup hanya dengan kumpulan data. Ia membongkar kerangka berpikir, menelaah
asumsi, dan menimbang logika. Filsafat justru berani melontarkan pertanyaan
yang sering luput dari sains: mengapa sesuatu dianggap benar? dan apa arti kebenaran
itu sendiri?
3. Epistemologi Mistis: Jalur yang satu ini
berangkat dari pengalaman batin. Pengetahuan tidak disusun melalui definisi
atau proposisi, melainkan dirasakan dan dihayati. Dalam tradisi ini, kebenaran
lebih menyerupai perjumpaan personal daripada sebuah kesimpulan rasional.
Menariknya, ketiga
pendekatan itu tidak saling meniadakan, tetapi justru memperlihatkan sisi-sisi
kebenaran dari sudut pandang yang berbeda. Sains menjelaskan bagaimana realitas
bekerja, filsafat mempertanyakan mengapa demikian, sementara mistisisme mencoba
menjawab untuk apa semuanya bermakna.
Meski begitu, epistemologi
juga mengingatkan bahwa pengetahuan tidak muncul tanpa syarat. Sebuah
pernyataan belum layak disebut pengetahuan jika tidak memenuhi standar
tertentu: ada yang mengharuskan kesesuaian dengan fakta (korespondensi), ada
yang menuntut konsistensi dalam sistem gagasan (koherensi), ada yang memandang
benar karena bermanfaat (pragmatisme), dan ada pula yang berdasar pada
kesepakatan sosial. Seluruh standar ini menunjukkan bahwa kebenaran bukanlah
satu jalur lurus, tetapi jejaring yang saling menguatkan.
Di balik pencarian besar
ini terdapat kesadaran yang jauh lebih mendasar: manusia memiliki batas dalam
mengetahui. Indera kita hanya menangkap sebagian kecil realitas, akal dibatasi
bahasa dan konsep, intuisi dapat menyesatkan, bahkan wahyu pun membutuhkan
penafsiran oleh manusia. Justru kesadaran akan keterbatasan inilah yang
menjadikan epistemologi sebuah disiplin yang menumbuhkan kerendahan hati
sekaligus memberi ruang harapan.
Pada akhirnya,
epistemologi tidak hanya menjadi cabang filsafat, tetapi juga peta arah bagi
peradaban. Tanpanya kita mudah hanyut dalam dogma, termakan hoaks, dan larut
dalam klaim-klaim tanpa dasar. Melalui epistemologi, manusia dididik bukan
sekadar untuk percaya, tetapi untuk memahami, dan bukan hanya memahami tetapi
juga memikul tanggung jawab atas keyakinannya.
Di tengah era digital yang
sesak oleh informasi tanpa penyaring, epistemologi berfungsi sebagai benteng
kewarasan terakhir: ia mengingatkan bahwa kebenaran harus dicari, diuji, dan
dimengerti bukan sekadar ditelan
mentah-mentah.
